Thursday, 30 March 2017

The Road to PhD (Part 2)

2

Tulisan ini dibuat sesaat setelah saya baru saja dinyatakan lulus sidang pertama sebagai seorang mahasiswa PhD. Horeeee... satu milestone berhasil saya langkahi, namun sesungguhnya perjuangan justru baru akan dimulai :)

Jadi, ternyata di UK (khususnya di universitas saya), sebagai mahasiswa PhD kita akan melewati 3 kali ujian sidang selama studi; yaitu pada 6 bulan pertama, 12 bulan berikutnya dan pada tahun terakhir (tahun ke 3 atau 4). Sidang pertama disebut sebagai Registration Panel, yaitu semacam sidang kualifikasi atau di Indonesia sering juga kita kenal sebagai sidang kelayakan. Sidang ini dilakukan setelah 6 bulan masa studi, dimana kita harus mempresentasikan proposal penelitian yang akan dijalankan selama PhD. Pasti bingung ya, lho kok sidangnya ngebahas proposal, bukannya waktu apply ke universitas kita sudah mengirimkan proposal penelitian kita ya?

Kepada teman-teman yang juga akan/ingin melanjutkan PhD, hal ini penting untuk diketahui: bersiaplah bila ternyata penelitian PhD kita akan berbeda dengan apa yang kita tulis atau rencanakan sejak awal mendaftar universitas. Umumnya, proposal penelitian yang kita kirimkan saat mendaftar universitas adalah untuk menemukan kecocokan bidang ilmu dan jalur penelitian antara kita dengan sang calon supervisor. Setelah kita diterima dan memulai studi, supervisor akan mengajak kita berdiskusi mengenai riset yang akan kita lakukan secara lebih mendetil. Supervisor akan memberikan pengarahan dan teori-teori yang perlu kita baca dan kritisi lebih jauh lagi, hingga akhirnya kita menemukan topik yang paling sesuai dengan interest dan intellectual curiousity yang kita miliki, yang juga tentunya sesuai dengan bidang sang supervisor. Beruntung supervisor saya punya interest yang sama dengan saya: visual communication, maritime tourism dan cross-culture, sehingga proposal final yang saya buat tidak terlalu jauh dari apa yang telah saya buat sebelumnya. Walau demikian, saya perlu melakukan beberapa perubahan pada proposal riset saya setelah selama 6 bulan terakhir ini membaca lebih dari 200 jurnal (ini seriusan), terutama dari segi teori dan metodologi. Ternyata bener kata pepatah, "semakin kita tahu, semakin kita merasa bodoh", atau kalo lebih kerennya kata Albert Einstein, "The more I learn, the more I realize how much I don't know", karena ternyata ilmu pengetahuan itu sangat luas dan tidak ada batasnya. Intinya, saking banyaknya teori yang perlu dipahami, waktu nulis literature review cuma ada satu kata yang bisa mewakili: LIEUR alias pusyiiingg! :))
  
---------------------------------------------------------------------------------------------

Enam bulan pertama menjadi mahasiswa PhD sedikit banyak telah memberikan saya pengalaman akademis yang berbeda dari apa yang pernah saya alami sebelum-sebelumnya. Sebagai seseorang yang selama ini menghabiskan masa pendidikan di Indonesia, saya terbiasa belajar dengan cara 'menunggu dan menerima' apa yang guru atau dosen saya ajarkan di kelas. Saya hanya perlu datang dan duduk manis mendengarkan apa yang guru/ dosen sampaikan, tanpa perlu persiapan apapun sebelumnya. Alias, biasa disuapin. Disini, selain karena di UK dan saya menjalani pendidikan yang lebih tinggi hierarkinya dibandingkan pendidikan saya sebelumnya, tentunya saya menemukan hal-hal baru baik dari metoda maupun tuntutan akademis. Sistem pendidikan S3 di UK umumnya tidak mewajibkan mahasiswanya untuk mengambil mata kuliah tertentu, namun kita diberikan beberapa kelas pilihan yang dirasa penting dan relevan dengan fase atau topik penelitian kita. Nah, bedanya dengan apa yang biasa saya lakukan di Indonesia, disini kita akan dibekali beberapa materi yang perlu kita baca sebelum masuk kelas. Ternyata disini kelasnya lebih banyak bersifat diskusi dua arah antara dosen dan mahasiswa, dan kita dituntut untuk menyuarakan opini, ide atau membagi pengetahuan yang kita miliki kepada seluruh kelas. Awalnya saya agak jiper juga, apalagi kalau melihat teman-teman sekelas saya yang kalo ngomong gak perlu mikir dulu alias casciscus blahblahblah panjang lebar kesana kesini jelasin sesuatu pake kosakata yang sophisticated banget. Ya iya lah bule :))))

Selain itu, sebagai mahasiswa PhD saya merasa perlu men-sahih-kan pernyataan yang sering saya dengar bahwa 'supervisor itu ibarat jodoh' dan bahwa 'hidup matinya studi kita ada di tangan supervisor' (kalau mau lebih jelas lagi maksudnya gimana, silakan baca postingan saya yang INI ya). Nah, setelah saya menjalani studi disini, ternyata kedua hal tersebut memang perlu dibenarkan. 

Saya harus banyak-banyak bersyukur kepada Tuhan yang telah memberikan jodoh supervisor yang benar-benar luar biasa. Alhamdulillah banget. Bukan hanya karena ketiga orang supervisor saya adalah orang-orang yang hebat di bidangnya, tetapi juga karena mereka tidak hanya sebagai mentor, guru atau supervisor bagi studi saya, tetapi juga sebagai motivator, sahabat dan teman satu tim. Mungkin saya akan terkesan lebay, tapi ini beneran: setiap kali saya selesai bimbingan, saya bahagia!! Bahagia, karena mereka adalah orang-orang yang memancarkan energi positif yang sangat kuat, sehingga walaupun saya mengalami kebuntuan saat mengerjakan penelitian, bukannya jadi bete atau murung, tapi saya malah makin semangat!!! Aura positifnya itu loh.. wah susah dijelasin.. pokoknya bikin hepi terus deh kalo ketemu mereka! :D Saya juga harus bersyukur karena mendapatkan supervisor yang rela membaca semua tulisan saya kata-per-kata dan mengkoreksi kesalahan penulisan ataupun grammar yang kadang gak sengaja saya lakukan. Gila, mereka bahkan jadi proofreader pribadi saya!! Inilah yang membuat saya sadar, bahwa posisi supervisor bukan hanya sebagai pembimbing, tetapi juga sebagai teman satu tim, yang artinya kita mengerjakan penelitian ini bersama-sama, bukan hanya saya sendiri (karena toh akhirnya kalo kita publish riset kita ke jurnal internasional, nama supervisor akan kita bawa kan?). Jujur, ketiga supervisor keren ini kini telah menjadi role model saya, dan saya berjanji bahwa kelak bila saya menjadi dosen dan pembimbing, insya Allah saya ingin menjadi dosen/pembimbing yang baik seperti mereka :)

Bahwa hidup dan matinya studi kita ada di tangan supervisor, mungkin terdengar ekstrim bagi sebagian orang. Hidup dan matinya studi lo ya ada di tangan lo sendiri lah, gak usah nyalahin orang lain :) Well bener juga sih, tapi kalo kasusnya seperti teman-teman saya ini, saya harus iya-kan bahwa posisi supervisor (serta sifat dan kepribadiannya) memang sangat krusial dalam kehidupan akademis di jenjang PhD ini.

Teman saya, sebut saja Mbak Wow, wanita cantik asal Arab. Topik risetnya adalah tentang Human Resource Management dengan studi kasus perusahaan minyak di Arab, dan supervisor utamanya adalah ahli HR yang punya pengalaman karir di perusahaan minyak di berbagai negara. Namun, cocok di bidang riset bukanlah segalanya. Supervisor Mbak Wow ini ternyata sangat sensitif dengan masalah SARA. Menurut Mbak Wow, dia sering mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari sang supervisor karena masalah etnis dan agama (you know what I mean). Mbak Wow merasa tidak nyaman dengan hal ini hingga seringkali menangis setiap kali selesai bimbingan. Semangat belajar semakin lama semakin hilang, sementara dia sudah bayar mahal untuk program PhD ini. Rintangan semakin berat saat ternyata sang supervisor tiba-tiba mengundurkan diri dari universitas. Mbak Wow pun semakin bingung karena dengan pengunduran diri sang supervisor, artinya dia harus punya supervisor pengganti. Walaupun dibantu pihak universitas, mendapatkan supervisor pengganti sama saja seperti harus kembali ke proses awal, yaitu mencari kecocokan bidang dan kelanjutan topik penelitian. Mbak Wow putus asa dan mempertanyakan kembali apa tujuan dan motivasi awal dia melanjutkan S3. Mbak Wow sempat ingin berhenti dan tidak mau melanjutkan studinya. Mandek. Buntu. Gak tau harus gimana. Motivasi hilang dan ingin mengundurkan diri dari universitas dan kembali ke negaranya. Hingga akhirnya berita gembira datang, dia mendapatkan supervisor baru yang ternyata sangat baik dan menyenangkan. Walaupun perlu banyak penyesuaian dalam hal bidang riset hingga harus mengganti total topik risetnya, Mbak Wow kini bahagia karena mempunyai supervisor yang bisa memberikan semangat baru dalam melanjutkan studinya. Terbukti setelah nyaris setengah tahun berjalan di tempat, kini Mbak Wow bisa mengejar ketertinggalan dan sebentar lagi akan maju sidang akhir.

Kasus Mbak Wow hanyalah satu diantara sekian banyak drama hubungan supervisor-mahasiswa PhD yang pernah saya dengar. Moral of the story adalah, khususnya untuk teman-teman yang berniat melanjutkan PhD, seiring dengan usaha keras yang teman-teman lakukan untuk mendapatkan supervisor dengan bidang riset yang cocok, jangan lupa berdoa semoga supervisor yang akan membimbing kelak dapat menjadi support system dalam menjalani studi PhD nanti. Saya doakan juga semoga teman-teman bisa mendapatkan supervisor yang baik dan luar biasa seperti ketiga supervisor saya ya. Amiiiin :)

----------------------------------------------------------------------------------

Alhamdulillahi rabbil al'amin, saya lulus dengan hasil memuaskan pada sidang pertama ini. Dan seperti biasa, ketiga supervisor saya memberikan banyak energi positif yang membuat saya semakin semangat untuk melangkah ke tahap selanjutnya. Perjuangan masih panjang, saya masih punya sidang ke 2 dan ke 3. Semoga saya bisa tetap istiqamah dalam menjalani studi PhD ini. Wish me luck :)



2 comments:

  1. semangat kak !

    ReplyDelete
  2. And most recipes name for them to be untoasted.

    ReplyDelete