Thursday, 30 March 2017

The Road to PhD (Part 2)

1

Tulisan ini dibuat sesaat setelah saya baru saja dinyatakan lulus sidang pertama sebagai seorang mahasiswa PhD. Horeeee... satu milestone berhasil saya langkahi, namun sesungguhnya perjuangan justru baru akan dimulai :)

Jadi, ternyata di UK (khususnya di universitas saya), sebagai mahasiswa PhD kita akan melewati 3 kali ujian sidang selama studi; yaitu pada 6 bulan pertama, 12 bulan berikutnya dan pada tahun terakhir (tahun ke 3 atau 4). Sidang pertama disebut sebagai Registration Panel, yaitu semacam sidang kualifikasi atau di Indonesia sering juga kita kenal sebagai sidang kelayakan. Sidang ini dilakukan setelah 6 bulan masa studi, dimana kita harus mempresentasikan proposal penelitian yang akan dijalankan selama PhD. Pasti bingung ya, lho kok sidangnya ngebahas proposal, bukannya waktu apply ke universitas kita sudah mengirimkan proposal penelitian kita ya?

Kepada teman-teman yang juga akan/ingin melanjutkan PhD, hal ini penting untuk diketahui: bersiaplah bila ternyata penelitian PhD kita akan berbeda dengan apa yang kita tulis atau rencanakan sejak awal mendaftar universitas. Umumnya, proposal penelitian yang kita kirimkan saat mendaftar universitas adalah untuk menemukan kecocokan bidang ilmu dan jalur penelitian antara kita dengan sang calon supervisor. Setelah kita diterima dan memulai studi, supervisor akan mengajak kita berdiskusi mengenai riset yang akan kita lakukan secara lebih mendetil. Supervisor akan memberikan pengarahan dan teori-teori yang perlu kita baca dan kritisi lebih jauh lagi, hingga akhirnya kita menemukan topik yang paling sesuai dengan interest dan intellectual curiousity yang kita miliki, yang juga tentunya sesuai dengan bidang sang supervisor. Beruntung supervisor saya punya interest yang sama dengan saya: visual communication, maritime tourism dan cross-culture, sehingga proposal final yang saya buat tidak terlalu jauh dari apa yang telah saya buat sebelumnya. Walau demikian, saya perlu melakukan beberapa perubahan pada proposal riset saya setelah selama 6 bulan terakhir ini membaca lebih dari 200 jurnal (ini seriusan), terutama dari segi teori dan metodologi. Ternyata bener kata pepatah, "semakin kita tahu, semakin kita merasa bodoh", atau kalo lebih kerennya kata Albert Einstein, "The more I learn, the more I realize how much I don't know", karena ternyata ilmu pengetahuan itu sangat luas dan tidak ada batasnya. Intinya, saking banyaknya teori yang perlu dipahami, waktu nulis literature review cuma ada satu kata yang bisa mewakili: LIEUR alias pusyiiingg! :))
  
---------------------------------------------------------------------------------------------

Enam bulan pertama menjadi mahasiswa PhD sedikit banyak telah memberikan saya pengalaman akademis yang berbeda dari apa yang pernah saya alami sebelum-sebelumnya. Sebagai seseorang yang selama ini menghabiskan masa pendidikan di Indonesia, saya terbiasa belajar dengan cara 'menunggu dan menerima' apa yang guru atau dosen saya ajarkan di kelas. Saya hanya perlu datang dan duduk manis mendengarkan apa yang guru/ dosen sampaikan, tanpa perlu persiapan apapun sebelumnya. Alias, biasa disuapin. Disini, selain karena di UK dan saya menjalani pendidikan yang lebih tinggi hierarkinya dibandingkan pendidikan saya sebelumnya, tentunya saya menemukan hal-hal baru baik dari metoda maupun tuntutan akademis. Sistem pendidikan S3 di UK umumnya tidak mewajibkan mahasiswanya untuk mengambil mata kuliah tertentu, namun kita diberikan beberapa kelas pilihan yang dirasa penting dan relevan dengan fase atau topik penelitian kita. Nah, bedanya dengan apa yang biasa saya lakukan di Indonesia, disini kita akan dibekali beberapa materi yang perlu kita baca sebelum masuk kelas. Ternyata disini kelasnya lebih banyak bersifat diskusi dua arah antara dosen dan mahasiswa, dan kita dituntut untuk menyuarakan opini, ide atau membagi pengetahuan yang kita miliki kepada seluruh kelas. Awalnya saya agak jiper juga, apalagi kalau melihat teman-teman sekelas saya yang kalo ngomong gak perlu mikir dulu alias casciscus blahblahblah panjang lebar kesana kesini jelasin sesuatu pake kosakata yang sophisticated banget. Ya iya lah bule :))))

Selain itu, sebagai mahasiswa PhD saya merasa perlu men-sahih-kan pernyataan yang sering saya dengar bahwa 'supervisor itu ibarat jodoh' dan bahwa 'hidup matinya studi kita ada di tangan supervisor' (kalau mau lebih jelas lagi maksudnya gimana, silakan baca postingan saya yang INI ya). Nah, setelah saya menjalani studi disini, ternyata kedua hal tersebut memang perlu dibenarkan. 

Saya harus banyak-banyak bersyukur kepada Tuhan yang telah memberikan jodoh supervisor yang benar-benar luar biasa. Alhamdulillah banget. Bukan hanya karena ketiga orang supervisor saya adalah orang-orang yang hebat di bidangnya, tetapi juga karena mereka tidak hanya sebagai mentor, guru atau supervisor bagi studi saya, tetapi juga sebagai motivator, sahabat dan teman satu tim. Mungkin saya akan terkesan lebay, tapi ini beneran: setiap kali saya selesai bimbingan, saya bahagia!! Bahagia, karena mereka adalah orang-orang yang memancarkan energi positif yang sangat kuat, sehingga walaupun saya mengalami kebuntuan saat mengerjakan penelitian, bukannya jadi bete atau murung, tapi saya malah makin semangat!!! Aura positifnya itu loh.. wah susah dijelasin.. pokoknya bikin hepi terus deh kalo ketemu mereka! :D Saya juga harus bersyukur karena mendapatkan supervisor yang rela membaca semua tulisan saya kata-per-kata dan mengkoreksi kesalahan penulisan ataupun grammar yang kadang gak sengaja saya lakukan. Gila, mereka bahkan jadi proofreader pribadi saya!! Inilah yang membuat saya sadar, bahwa posisi supervisor bukan hanya sebagai pembimbing, tetapi juga sebagai teman satu tim, yang artinya kita mengerjakan penelitian ini bersama-sama, bukan hanya saya sendiri (karena toh akhirnya kalo kita publish riset kita ke jurnal internasional, nama supervisor akan kita bawa kan?). Jujur, ketiga supervisor keren ini kini telah menjadi role model saya, dan saya berjanji bahwa kelak bila saya menjadi dosen dan pembimbing, insya Allah saya ingin menjadi dosen/pembimbing yang baik seperti mereka :)

Bahwa hidup dan matinya studi kita ada di tangan supervisor, mungkin terdengar ekstrim bagi sebagian orang. Hidup dan matinya studi lo ya ada di tangan lo sendiri lah, gak usah nyalahin orang lain :) Well bener juga sih, tapi kalo kasusnya seperti teman-teman saya ini, saya harus iya-kan bahwa posisi supervisor (serta sifat dan kepribadiannya) memang sangat krusial dalam kehidupan akademis di jenjang PhD ini.

Teman saya, sebut saja Mbak Wow, wanita cantik asal Arab. Topik risetnya adalah tentang Human Resource Management dengan studi kasus perusahaan minyak di Arab, dan supervisor utamanya adalah ahli HR yang punya pengalaman karir di perusahaan minyak di berbagai negara. Namun, cocok di bidang riset bukanlah segalanya. Supervisor Mbak Wow ini ternyata sangat sensitif dengan masalah SARA. Menurut Mbak Wow, dia sering mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari sang supervisor karena masalah etnis dan agama (you know what I mean). Mbak Wow merasa tidak nyaman dengan hal ini hingga seringkali menangis setiap kali selesai bimbingan. Semangat belajar semakin lama semakin hilang, sementara dia sudah bayar mahal untuk program PhD ini. Rintangan semakin berat saat ternyata sang supervisor tiba-tiba mengundurkan diri dari universitas. Mbak Wow pun semakin bingung karena dengan pengunduran diri sang supervisor, artinya dia harus punya supervisor pengganti. Walaupun dibantu pihak universitas, mendapatkan supervisor pengganti sama saja seperti harus kembali ke proses awal, yaitu mencari kecocokan bidang dan kelanjutan topik penelitian. Mbak Wow putus asa dan mempertanyakan kembali apa tujuan dan motivasi awal dia melanjutkan S3. Mbak Wow sempat ingin berhenti dan tidak mau melanjutkan studinya. Mandek. Buntu. Gak tau harus gimana. Motivasi hilang dan ingin mengundurkan diri dari universitas dan kembali ke negaranya. Hingga akhirnya berita gembira datang, dia mendapatkan supervisor baru yang ternyata sangat baik dan menyenangkan. Walaupun perlu banyak penyesuaian dalam hal bidang riset hingga harus mengganti total topik risetnya, Mbak Wow kini bahagia karena mempunyai supervisor yang bisa memberikan semangat baru dalam melanjutkan studinya. Terbukti setelah nyaris setengah tahun berjalan di tempat, kini Mbak Wow bisa mengejar ketertinggalan dan sebentar lagi akan maju sidang akhir.

Kasus Mbak Wow hanyalah satu diantara sekian banyak drama hubungan supervisor-mahasiswa PhD yang pernah saya dengar. Moral of the story adalah, khususnya untuk teman-teman yang berniat melanjutkan PhD, seiring dengan usaha keras yang teman-teman lakukan untuk mendapatkan supervisor dengan bidang riset yang cocok, jangan lupa berdoa semoga supervisor yang akan membimbing kelak dapat menjadi support system dalam menjalani studi PhD nanti. Saya doakan juga semoga teman-teman bisa mendapatkan supervisor yang baik dan luar biasa seperti ketiga supervisor saya ya. Amiiiin :)

----------------------------------------------------------------------------------

Alhamdulillahi rabbil al'amin, saya lulus dengan hasil memuaskan pada sidang pertama ini. Dan seperti biasa, ketiga supervisor saya memberikan banyak energi positif yang membuat saya semakin semangat untuk melangkah ke tahap selanjutnya. Perjuangan masih panjang, saya masih punya sidang ke 2 dan ke 3. Semoga saya bisa tetap istiqamah dalam menjalani studi PhD ini. Wish me luck :)



Friday, 6 January 2017

Hello Eropa Timur!

13

Seru juga ya liburan bersama orang-orang kesayangan. Sungguh beruntung, saya ditemani 3 pria kesayangan sekaligus: Jude, Bryan dan Iqbal, hihihi. Paket combo! :)


Iqbal - Jude - Bryan- saya
Sebelum saya berangkat ke London, sejak pertengahan tahun 2016 Jude sudah berkali-kali mengajak saya untuk ikut liburan keliling Eropa Timur bareng dia. Saya yang saat itu masih fokus pada urusan per-London-an, cuma bisa iya-iya aja sambil nyengir 'gimana entar', sembari mikir kalopun gak pergi kemana-mana, liburan di London juga saya udah bahagia banget kok.


Baru juga satu bulan pertama di London, rasanya saya sudah cukup banyak mengeksplor kota ini. Nyaris semua touristy places yang wajib dikunjungi, sudah hampir semua saya datangi. Saya jadi mikir nanti pas liburan natal dan tahun baru, kayaknya agak garing juga kalo cuma ke situ-situ doang. Lalu, kalo gak keliling Eropa Timur bareng si Jude, kapan lagi. Mumpung ada temen, belum terlalu sibuk... dan, mumpung duitnya ada :p

Dalam waktu kurang dari sebulan, saya mulai mempersiapkan semua urusan liburan, dimulai dari visa, hotel, transport dan pakaian musim dingin. Seluruh itinerary dan rangkaian kegiatan selama liburan saya serahkan seluruhnya kepada Jude yang memang otak dari acara jalan-jalan seru ini. Adapun itinerary saya agak berbeda dari Jude dan Bryan. Mereka berangkat 1 minggu lebih awal dari saya, dan kami bertemu di Praha.

Dalam postingan kali ini, saya akan sharing sedikit beberapa hal yang siapa tahu berguna bagi teman-teman yang ingin liburan keliling Eropa Timur, sesuai pengalaman pribadi saya kemarin. Semoga bermanfaat :)

Itinerary

Eropa bagian timur terdiri dari 10 negara, yaitu Belarus, Bulgaria, Czech Republic, Hungary, Moldova, Poland, Romania, Russia, Slovakia, dan Ukraina. Pada liburan kali ini hanya 4 negara Eropa bagian timur yang kami kunjungi. Sebagai tambahannya, kami juga mengunjungi beberapa negara di Eropa bagian tengah, yaitu Austria dan Jerman. Walaupun cuma 4 negara, kami sepakat liburan kali ini judulnya tetep Eropa Timur. Maaf emang kita anaknya suka maksa :))))

Terlepas dari apapun alasannya, saya sih setuju aja waktu Jude bilang itinerary yang sudah disusun antara lain adalah:

1. Czech Republic (menginap 4 malam di Praha, day trip 1 hari ke Kutna Hora dan 1 hari ke Chezky Krumlov)
2. Poland (2 hari 2 malam di Krakow, day trip 1 hari ke Wielizcka)
3. Austria (3 hari 3 malam di Vienna, karena Jude dan Bryan ingin merayakan Natal disana)
4. Slovakia (day trip ke Bratislava, numpang makan siang doang sekalian transit dalam perjalanan dari Vienna ke Budapest)
5. Hungary (3 hari 2 malam di Budapest)
6. Jerman (3 hari 2 malam di Berlin, tahun baruan dan ketemu Iqbal disana)

Itinerary ini agak sedikit muter jauh sih, terutama dari Budapest ke Berlin, karena kami jadi balik lagi ke Praha untuk transit. Jadi buat teman-teman yang punya rencana mengunjungi semua negara yang kami kunjungi ini, saya sarankan untuk ambil jalur utara ke selatan (Berlin- Krakow- Praha- Vienna- Bratislava - Budapest). Dan satu lagi yang paling penting, kalau bisa simpan Budapest di itinerary paling akhir, karena saya jamin bakal jadi GONG-nya perjalanan kalian. Climax to the max! :)

Visa

Berhubung saya masuk (dan paling lama stay) di Praha, maka saya apply visa melalui kedutaan Czech-- yang ujung ceritanya membuat saya menyesal. Setelah pernah memiliki visa Schengen 2 tahun lalu, tentunya saya berharap mendapat multiple entry selama 1 tahun seperti apa yang didapatkan Jude dari kedutaan Belanda. Nyatanya, saya cuma dikasih single entry dengan durasi 15 hari saja, dari tanggal 18 Desember 2016 sampai 1 Januari 2017, betul-betul sama dengan jumlah hari yang akan saya habiskan di Schengen area. Astagaa, mepet amat yes, kalo ada hal-hal emergency yang tidak diinginkan gimana *jangan sampe siiih, tapi kan mbok ya kasih 1-2 hari spare waktu tambahan supaya lebih flexible waktu stay nya.

Ternyata bener aja, waktu saya pulang dari Berlin tanggal 1 Januari, saya baru dapat cap keluar Schengen-nya di Belgia, 1 hari setelah saya keluar dari Berlin-- karena saya pulang ke London menggunakan kereta. Jadilah saya punya cap keluar tanggal 2. Saya sempat ditegur di EU Border di Belgia karena saya masih berada di Schengen area 1 hari setelah durasi stay saya expired. Bingung luar biasa, karena saat saya apply visa, semua tiket sudah saya bayar dan semua dokumen penting sudah saya serahkan, yang jelas-jelas disana tertulis, bahwa saya pulang dari Jerman melalui Belgia. Beruntung, petugas EU border membiarkan saya keluar tanpa denda (kalo baca-baca pengalaman orang di Internet sih, mereka kena denda minimal 700 Euro *ajegileee...) namun dia sempat bilang, bahwa bila saya apply visa lagi bisa agak bermasalah. Huhuhu mudah-mudahan enggak ya.

Bagi yang ingin apply visa, saran saya lebih baik lewat kedutaan Belanda atau Perancis aja deh. Setelah saya cari-cari info di internet, ternyata kedutaan Ceko ini emang agak-agak gemesin bikin pengen nyubit :)

Silakan cek link berikut ini untuk info lebih lengkapnya ya --- plesirankeluarga. Dari informasi di link tersebut, bisa disimpulan bahwa negara yang paling susah memberikan visa adalah Ceko, sementara Belanda adalah yang paling mudah :)

Transportasi

Bus adalah transportasi utama kami untuk setiap perpindahan kota/ negara. Setidaknya ada 3 agen bus yang kami gunakan selama perjalanan kami ini: Regio Jet (Bratislava - Budapest, Budapest - Berlin) , Flix Bus (Praha- Krakow, Krakow- Bratislava) dan Intercars Polska (Krakow- Vienna).

Dari ketiga bus tersebut, bisa dibilang Regio Jet adalah yang paling favorit. Lengkap dengan fasilitas standar pesawat ekonomi seperti monitor tv plus headphone di setiap kursi, bus ini dilengkapi dengan power plug, wifi dan bahkan pramugari/pramugara yang melayani penumpang dengan minuman gratis seperti cappuccino, hot chocolate atau hot tea. Cukup mengesankan untuk bus seharga 8-12 Euro :)) Sayangnya, wifi mulai tersendat dan bahkan mati mengenaskan ketika sudah mulai keluar Czech Republic, mungkin providernya memang khusus dalam negeri aja.

Berbeda dengan Regio Jet, Flix Bus dan Intercars Polska cenderung relatif sama seperti bus-bus antar kota yang sering kita jumpai di Indonesia. Point plusnya, Flix Bus memiliki kursi yang cukup luas dan dudukan yang empuk, cukup nyaman untuk percajalan di atas 3 jam.

Ho(s)tel

Bisa dibilang kami masih ber-kelas backpacker, alias masih gotong-gotong backpack (terutama untuk Jude dan Bryan) dan masih menginap di hostel alias satu kamar rame-rame. Jawabannya tentu saja karena cari yang murah dan paket hemat. Tapi jangan salah, biarpun kelasnya masih budget traveller, kami punya standar yang cukup tinggi dalam hal kenyamanan berlibur. Urusan menginap di ho(s)tel salah satunya. Walaupun kami menginap di hostel, tentunya kami memilih hostel dengan standar hotel bintang 3.

Nyaman namun ekonomis, lokasi strategis, dan sarapan gratis!

Walaupun kami menginap di hotel berbintang dengan harga cukup bikin kere di Berlin, selama 12 malam lebih kami menginap di berbagai hostel dengan harga bersahabat di kantong. Dalam hal ini, saya acungkan jempol untuk Jude yang memilihkan hostel dengan review terbaik di Tripadvisor, dan memang kami buktikan sendiri, terlepas dari kekurangannya, kami menikmati semua hostel ini.

Mau tau apa aja? Tunggu postingan saya berikutnya :)

Saya akan bercerita tentang masing-masing negara, lengkap beserta tips dan foto-fotonya.

Ditunggu yaaa :)

-------------------------------------

In the meantime, saya ingin mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU 2017 bagi semua teman-teman yang membaca blog saya ini. Siapapun dan dimanapun kalian berada, terimakasih loh sudah mampir! Semoga blog ini bermanfaat dan menginspirasi.... walaupun sosok saya ini masih jauuuuh dari kata inspiratif hahaha *atuh da saya mah apah atuh.........

Semoga di tahun 2017, semua harapan dan doa kita terwujud ya.. SEMANGAT!!!! :)

Thursday, 13 October 2016

Sebulan Pertama

0

Sudah satu bulan saya di London!

Gak kerasa, perasaan baru kemarin saya nangis-nangisan di Bandara Soekarno-Hatta saat berpisah dengan keluarga dan gank sahabat baik saya. 

Selama satu bulan ini, Alhamdulillah saya BAHAGIA BANGET!! Satu, karena cita-cita saya untuk bisa sekolah dan tinggal lama di kota impian saya (akhirnyaaa) terwujud juga. Dua, karena saya bisa ada disini karena mendapat beasiswa full sehingga Alhamdulillah nggak perlu pusing mikirin duit hahaha. Tiga, karena saya mendapat ibu-bapak kos yang luar biasa baiknya dan tempat tinggal saya enaaaak banget. Empat, karena saya mendapat banyak sekali teman-teman baru yang menyenangkan. Lima, karena saya gak kesulitan untuk beribadah karena Islam diterima dengan sangat baik disini dan cari makanan halal sangat mudah. Enam, karena masih ada nomor tujuh, delapan, sembilan, sepuluh dan seterusnya yang membuat saya sangat bahagia hidup di London.

Salah satu bukti kebahagiaan saya adalah bukannya kurus, saya malah naik 4 kg selama sebulan disini :))))

------------------------------------------------------------

Anyway, ada 2 hal yang menurut saya cukup esensial untuk diketahui dan mungkin juga akan bermanfaat bagi teman-teman yang ingin sekolah dan tinggal di London. Dua hal ini, menurut saya sangat berbeda dengan apa yang biasa kita alami di Indonesia, yaitu masalah akomodasi dan perbankan. Untuk transportasi, tentunya memang sangat berbeda dengan di Indonesia-- namun saya rasa tidak terlalu membuat kita harus melakukan banyak pertimbangan, karena memang tidak ada pilihan lain selain menggunakan Oyster Card :)

1. Akomodasi

Ini hal yang paling krusial yang harus dipikirkan jauh-jauh hari sebelum sekolah dan tinggal di Luar Negeri. Sejujurnya, saat itu saya agak menyepelekan hal ini--- yang kemudian saya sadari bahwa hal itu salah, namun pada akhirnya saya syukuri karena Tuhan sangat baik pada saya. 

Tadinya saya mau ngoboy aja dateng ke London lebih awal, menginap di hostel murah atau wisma Indonesia untuk cari akomodasi sendiri dengan melihat langsung karena saya selalu percaya bahwa 'Seeing is Believing'. Memang idealnya sih begitu, tapi ternyata gak selamanya hal ini bisa dikondisikan. Semakin dekat hari H keberangkatan, ternyata hal ini bikin saya resah. Alhamdulillah ternyata Allah ngasih saya jalan untuk "menemukan" Ibu-Bapak kost saya yang sekarang rumahnya saya tempati.

Saya tinggal bersama Ibu-Bapak yang sudah 40 tahun tinggal di London. Mereka adalah diaspora yang bekerja di KBRI. Rumahnya terdiri dari beberapa kamar yang dulunya dalah kamar anak-anaknya. Sekarang salah satu kamar tersebut saya yang tempati :) Alhamdulillah, mereka baiiiiiikkk sekali dan menganggap saya seperti anaknya sendiri. Alhamdulilahnya lagi, urusan perut sangat terjamin. Kami sering masak dan makan bareng masakan Indonesia :)) Berikut rumah kost saya yang walau agak jauh dari pusat kota tapi sangat nyaman, dan yang terpenting saya bahagia :D


Ada beberapa jenis akomodasi yang biasa ditempati oleh mahasiswa Indonesia di London: Shared house (satu rumah barengan sama student lain), Students hall (asrama mahasiswa yang dikelola baik oleh universitas maupun private/swasta), Studio flat (satu kamar yang isinya ada dapur, living room dan kamar mandi sendiri) atau Apartment/ flat (satu unit flat dihuni sendiri.. yang ini biasanya mahasiswa tajir sih ;p).

Dalam hal memilih akomodasi, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan yaitu: 

a. Agen Properti

Ada banyak sekali website agen properti yang menawarkan jenis-jenis akomodasi yang bisa kita pilih sesuai budget, lokasi dan selera kita. Beberapa diantaranya yaitu gumtree.com, rightmove.com, zoopla.com dan masih banyak lagi. 

Biasanya mahasiswa Indonesia lebih memilih untuk 'meneruskan' akomodasi mahasiswa Indonesia yang sudah lulus karena lebih bisa dipercaya dan lebih mudah untuk 'pindah-tangan' nya. Saya lebih merekomendasikan cara ini sih daripada cari sendiri dari agen properti. Nanti kalau sudah settle di London, baru deh bisa cari tempat lain yang dirasa lebih oke.

Berikut beberapa hal yang perlu diketahui sebelum bertransaksi dengan agen properti:

- Cari tahu dulu siapa dan bagaimana reputasi sang agen properti. Tidak jarang mahasiswa banyak yang kena tipu karena setelah membayar deposit, eh si agen menghilang begitu saja. Jadi inget ya, harus hati-hati banget soal ini.

- Kita harus membayar deposit seharga satu bulan sewa, sebelum kita mulai menempati akomodasi tersebut. Deposit ini akan dikembalikan saat kita selesai menyewa atau masa sewa kita habis.

- Kita harus menempati akomodasi selama minimal 6 bulan. Yup, bedanya dengan di Indonesia, kita gak bisa cuma nempatin sebulan- dua bulan doang trus karena gak betah kita cabut ke tempat lain. Jadi, sebisa mungkin cari akomodasi yang dirasa bakal bikin betah untuk ditempati selama 6 bulan atau bahkan lebih.

- Biasanya akomodasi baru bisa ditempati awal bulan (tanggal 1). Jadi kalau kita sampai di London tanggal 20, kita harus cari hostel/ wisma untuk menginap sampai tanggal 30/31. Di London ada beberapa wisma Indonesia kok yaitu Wisma Siswa Merdeka/ Wisma Indonesia/ Wisma Nusantara. Untuk menginap sementara seperti ini, pastikan kita sudah reservasi jauh-jauh hari ya, karena biasanya wisma-wisma ini sering penuh terutama di masa-masa mulai perkuliahan, dan isinya para mahasiswa baru semua :))

b. Budget

Umumnya harga akomodasi yang ditulis di website/agen properti adalah PCW (Per Calendar Week) atau PCM (Per Calendar Month). Nah, kalau tulisannya PCW, untuk tahu berapa harga perbulannya, cara menghitungnya adalah: harga x 52 : 12 yaa. 

Akomodasi di London sangat bervariasi harganya. Di Central London zona 1 relatif lebih mahal dibandingkan dengan di zona 3-4. Misalnya, harga satu kamar single di zona 1 bisa sekitar 700-800 an Pounds, sementara di zona 3 kamar dengan tipe yang sama hanya berkisar 400-550 Pounds saja. Kalau kampusnya terletak di zona 1, saya sarankan sih cari tempat tinggal di zona 1 juga, atau kalo mentok ya zona 2 pinggir lah-- karena ongkos transport di London cukup mahal, apalagi kalau tinggalnya di zona 4. Untuk mensiasati biaya akomodasi supaya lebih murah, biasanya mahasiswa Indonesia share satu kamar berdua. Jadi yang seharusnya harga kamar single 800, kalau berdua jadi cuma bayar 400 Pounds. Lumayan banget sih, cuma ya resikonya mungkin gak senyaman kalau satu kamar sendiri :)

Pastikan juga bahwa harga yang tertera di website agen properti sudah include all bills, yaitu internet, listrik, gas dan air. Terkadang ada beberapa jenis akomodasi yang mengharuskan kita membayar semua tagihannya sendiri, dan itu di luar biaya akomodasi.

c. Lokasi

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, pemilihan lokasi harus dipertimbangkan dengan baik. Bayangkan bila kita berada dalam kondisi dimana kita terpaksa harus pulang agak malam. Selain kemudahan dalam bertransportasi, faktor keamanan dalam memilih lokasi akomodasi tentunya harus menjadi pertimbangan utama. 

Berikut sedikit gambaran karakteristik London yang dibagi per-area (sumber: yougov.co.uk) yang mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan saat memilih lokasi tempat tinggal:




Saya tinggal di NW.. jadi mayan lah ya, Intellectual-Posh.. gaya banget gak sih HAHA :))))))

2. Bank

Ada sejumlah bank lokal Inggris, namun yang umumnya digunakan mahasiswa Indonesia, adalah Barclays, Lloyds, NatWest, HSBC dan Santander.

Sejauh yang saya ketahui (tapi silakan cari info yang lebih jelas lagi), tidak ada perbedaan yang terlalu signifikan dari kesemua bank tersebut. Biasanya masing-masing orang punya pertimbangan sendiri kenapa memilih bank tertentu. Saya sendiri memilih HSBC dengan pertimbangan karena bank ini memiliki cabang di seluruh dunia serta tidak dikenakan biaya bila kita ingin transfer ke rekening HSBC Indonesia. Berhubung saya sedang menjalani program PhD yang artinya akan tinggal di London selama 4 tahun dan ada kemungkinan bakal sering ke luar negeri, maka saya pikir ini pilihan terbaik.

Tapiiiiiii..... ada tapinya.

Perlu diketahui bahwa dalam membuka rekening di bank UK sangat berbeda dengan membuka rekening di Indonesia. Kalau di Indonesia kan kita tinggal bawa KTP, isi form yang dipandu oleh customer service serta setor sejumlah uang (minimal 50ribu kan ya kalo gak salah), dan rekening plus kartu debit kita pun langsung aktif saat itu juga. Gitu kan yah? Naaah, kalo di UK beda :)

Kita harus appointment dulu, apalagi kalau kita buka rekening di kantor cabang di pusat kota atau di kantor cabang yang lumayan besar dan ramai. Appointment bisa memakan waktu 1 minggu atau bahkan lebih. Setelah kita melakukan pengisian formulir dan wawancara dengan pihak bank dengan menunjukkan paspor dan surat dari universitas yang menerangkan alamat rumah kita, nomor rekening beserta kartu debit akan dikirimkan ke alamat akomodasi kita sekitar 3-5 hari kemudian, dan nomor PIN juga dikirim 1-3 hari setelah kita menerima kartu debit.

Tapi itu kondisi normalnya yaaa.

Nyatanya, kasus setiap orang beda-beda. Ada yang langsung datang ke bank tanpa harus appointment, langsung aktivasi rekening dan dapat kartu debit saat itu juga. Ada yang harus menunggu appointment hingga 2 minggu. Ada yang setelah appointment harus nunggu lagi 2 minggu lagi.

Saya pribadi termasuk yang agak "apes" karena harus menunggu 2 minggu lebih sampai rekening dan debit card saya aktif. Gak ngerti juga kenapa. Mungkin karena saya daftar di kantor cabang yang kecil dan agak jauh (?) atau karena saya pilih HSBC (??) atau karena saya kurang amal haha (???)

Correct me if I'm wrong, setahu saya bidang finansial dan perbankan di Inggris adalah salah satu yang terbaik di dunia.. tapi kok so far saya merasa pelayanan perbankan di Indonesia masih jauh lebih baik ya? Atau karena memang Indonesia biasa "manja"?

Selain masalah buka rekening yang saya jelaskan di atas, pelayanan di kantor bank nya juga tidak senyaman di Indonesia. Di Indonesia, kita biasa dibukakan pintu oleh satpam, ambil nomor, antri sesuai urutan nomor, kemudian langsung melakukan transaksi dengan teller/ customer service setelah nomor antrian kita dipanggil. Cetak buku rekening, penerbitan kartu debit, registrasi online banking dan sebagainya bisa dilakukan dalam satu waktu.

Disini, jangan harap kita disambut satpam, ambil nomor dan duduk manis di sofa yang nyaman sambil menunggu antrian. Kita harus siap mengantri sambil berdiri sampai tiba giliran kita. Dan jangan kaget kalau di cabang-cabang tertentu cuma tersedia 1 teller saja dan antriannya panjaaang. Iya, berdiri aja terus sampe kelar :)) Saat giliran kita tiba, rasanya gak enak sendiri kalo kita transaksi lama-lama, melihat antrian di belakang kita yang masih panjang.

Kenapa begitu ya? Ada yang tau gak sih kira-kira kenapa? Hmmm...

-----------------------------------------------------------------

Walaupun dalam beberapa hal jauh lebih nyaman di Indonesia, saya enjoy-enjoy aja sih tinggal di sini. Yang pasti akhirnya saya sadar, bahwa kenyamanan di Indonesia membuat saya bangga, bahwa ternyata Indonesia gak kalah kok sama negara-negara (yang katanyaa) maju ini :)

Okeeey, ditunggu di London yaaa! :)